Penanganan Cedera Olah Raga

Penanganan Cedera Olah Raga

Cedera pada saat melakukan olah raga memang kerap terjadi ketika seseorang tidak melakukan tahapan olah raga yang benar. Sering terjadi pula karena melakukan olah raga yang memang mengandung resiko, seperti bela diri, panjat tebing, dan lain-lain. Paling sering terjadi juga lantaran tidak menggunakan peralatan keamanan yang lengkap atau setting peralatan olah raga yang tidak benar.

Metode pertolongan pertama yang bisa dilakukan adalah metode RICE. Pertama, rest, lutut diistirahatkan dengan tidak digunakan untuk berjalan dahulu sampai bengkak hilang. Kedua, ice. Lakukan kompres dengan es atau air dingin untuk mengurangi bengkak dan nyeri.

Berikutnya, compression. Lakukan balutan dengan compression bandage (elastic verband) untuk mengurangi bengkak. Terakhir, elevation, yaitu berbaring dengan tungkai ditinggikan untuk mengurangi bengkak Cedera olah raga yang kerapkali terjadi adalah pada anterior cruciate ligament (ACL). Ini adalah jaringan pada sendi lutut yang menghubungkan tulang tibia (tungkai bawah) dengan tulang femur (paha). Mencegah terjadinya pergeseran tulang tibia sewaktu kita beraktivitas. Ligamen ini sangat kuat dan terletak pada bagian tengah sendi lutut dan menyilang di bagian depan.

Fungsinya untuk menstabilkan sendi lutut pada gerakan translasi (gerakan depan dan belakang) dan rotasi (gerakan berputar). Anterior cruciate ligament (ACL) sering mengalami cedera pada olahraga lari, lompat dengan gerakan berputar (pivot) dan berbelok yang tiba-tiba pada lutut, seperti sepakbola, voli, atau basket. Anterior cruciate ligament (ACL) juga dapat mengalami cedera pada waktu jatuh dengan tungkai bawah (tibia) terdorong ke belakang terhadap tulang paha (femur), seperti pada waktu jatuh akibat tackle pada sepak bola dan kecelakaan lalu lintas. Sebab lain adalah lompatan dengan lutut lurus yang berlebihan (hiperekstensi).

Derajat kerusakan ACL ini tergantung posisi lutut, arah dan besar kekuatan benturan pada lutut waktu cedera. Cedera pada ACL sering terjadi pada usia antara 15-25, terutama yang aktif berolah raga dan lebih sering terjadi pada wanita dibanding pria.

Credit : www.sumber-berita.com