5 Gejala Glaukoma Sesuai Jenisnya

Memahami bahaya glaukoma, penyakit penyebab kebutaan

KOMPAS.com – Glaukoma adalah gangguan mata karena saraf optik yang menghubungan mata ke otak rusak. Glaukoma yang tidak segera ditangani dapat membuat penderitanya kehilangan indra penglihatan. Penyakit mata ini dapat menyerang orang dari berbagai usia, tapi paling sering dialami orang lansia dengan usia 70-80 tahun.

penyebab glaukoma utamanya karena peningkatan tekanan di mata saat cairan tidak dapat mengalir lancar. Peningkatan tekanan ini lantas merusak saraf optik penghubung mata ke otak. Kondisi pemicu meningkatnya tekanan pada mata ini tidak jelas. Namun, ada beberapa faktor risiko penyebab glaukoma, seperti: Usia, Faktor keturunan, Gangguan mata seperti rabun jauh dan diabetes

Berikut beberapa gejala glaukoma sesuai jenisnya yang perlu diwaspadai:

1. Gejala glaukoma sudut terbuka Melansir American Academy of Ophthalmology, gejala glaukoma sudut terbuka di tahap awal umumnya belum terlihat. Penderita baru merasakan gejalanya saat penyakit mata ini sudah berkembang. Tanda utamanya yakni berkembangnya bintik buta di penglihatan perifer atau bagian samping. Kebanyakan penderita glaukoma sudut terbuka menyadari penyakitnya saat muncul gangguan penglihatan parah. Dengan gejalanya yang samar, tak pelak penyakit mata ini kerap dijuluki “si pencuri penglihatan diam-diam”.

2. Gejala glaukoma sudut tertutup Gejala glaukoma sudut tertutup muncul saat ada serangan penyakit. Beberapa tanda awalnya antara lain:

  • a. Pandangan kabur
  • b. Ada lingkaran cahaya di penglihatan
  • c. Sakit kepala ringat
  • d. Mata sakit

Orang dengan gejala glaukoma sudut tertutup harus segera memeriksakan diri ke dokter sebelum muncul serangan glaukoma. Serangan penyakit ini ditandai dengan:

  • a. Mata dan dahi sakit parag
  • b. Mata kemerahan
  • c. Penglihatan menurun dan pandangan kabur
  • d. Mata seperti ada pelangi atau lingkaran cahaya
  • e. Sakit kepala
  • f. Mual
  • g. Muntah

3. Gejala glaukoma tegangan normal Orang dengan kondisi glaukoma tegangan normal memiliki tekanan mata dalam kisaran normal. Kendati tekanannya normal, penderita mengalami gejala glaukoma seperti ada titik buta di bidang penglihatan dan saraf optik rusak.

4. Gejala glaukoma suspek Glaukoma suspek terjadi saat saraf optik penderita tidak rusak, tapi tekanan mata di atas rata-rata normal. Penderita yang mengalami gejala glaukoma di atas memang belum mengalami glaukoma, namun rentan terkena penyakit mata ini di kemudian hari. Mengingat banyak orang tidak merasakan gejala glaukoma, ada baiknya Anda tidak menyepelekan peningkatan tekanan mata di atas ambang batas normal.

5. Gejala glaukoma pigmen Glaukoma pigmen dapat terjadi saat pigmen bergesekan dengan bagian belakang iris mata. Gesekan tersebut dapat meningkatkan tekanan pada mata dan memicu glaukoma. Gejala glaukoma pigmen antara lain muncul lingkaran cahaya dan pandangan kabur setelah melakukan aktivitas fisik seperti olahraga. Penyakit glaukoma umumnya dapat diketahui lewat pemeriksaan kesehatan mata. Periksakan kondisi kesehatan mata ke dokter mata secara rutin minimal dua tahun sekali.

Sumber : health.kompas.com

Sudah Disiplin 3M Tetap Terpapar Covid-19, Lantas Bagaimana?

ilustrasi : Merdeka.com

KOMPAS.com – Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular AS, Dr Anthony Fauci setuju dengan ide sejumlah orang yang menggunakan dua buah masker sekaligus. Ini salah satunya terlihat pada pelantikan Presiden Joe Biden beberapa waktu lalu. Saat itu, beberapa orang terlihat melapisi ganda masker merek, termasuk menggunakan dua buah, untuk perlindungan lebih Menurut Fauci, menggunakan masker adalah ide yang baik, terutama untuk mencegah varian baru Covid-19 yang lebih mudah menular.

Adapun varian baru tersebut pertama kali diidentifikasi di Inggris. “Jika Anda menggunakan masker dan melapisinya lagi, maka masuk akal jika itu bisa lebih efektif.” “Itulah alasannya beberapa orang menggunakan dua masker atau melapisi dengan N95,” katanya dalam TODAY NBC News, seperti dilansir Insider.

Namun, tipe masker juga menjadi penting dan memengaruhi perlindungan yang ditawarkannya. Misalnya, menggunakan masker bedah atau N95 sebagai pelapis luar.

Opsi lainnya adalah menggunakan masker kain dua lapis pada bagian luar dan masker bedah sekali pakai pada bagian dalam, alih-alih menggunakan dua masker selapis.

Tiga lapisan masker yang digunakan masing-masingnya menawarkan perlindungan yang berbeda. Laisan terluar untuk melindungi kita dari cipratan dan tetesan ( droplet), lapisan tengah sebagai penyaring dan lapisan paling dalam untuk menyerap tetesan dari mulut kita, seperti air liur dan keringat.

Opsi lainnya yang juga bisa dicoba adalah menggunakan masker kain dua lapis dan mengenakan face shield untuk pelindung terluar, meskipun beberapa bukti ilmiah mengatakan bahwa masker lebih melindungi daripada face shield.

Namun, terlepas dari berapa lapis masker yang kita gunakan, kita harus tetap menerapkan protokol kesehatan lainnya dengan ketat. Selain menggunakan masker yang tepat, pastikan kamu juga mempraktikkan jaga jarak sosial, mencuci tangan secara rutin dan menghindari kerumunan, terutama di dalam ruangan.

Sumber: Kompas.com

Tips Penggunaan Masker

Tips Menggunakan Masker yang Baik dan Benar

Seiring dengan kelangkaan masker medis, masyarakat diminta memakai masker kain saat beraktivitas di luar rumah. Pemakaian masker medis pun hanya disarankan untuk petugas kesehatan yang harus bertugas di garda depan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan warga dunia agar memakai masker kain saat beraktivitas di luar ruangan. Pemakaian masker sangat diperlukan untuk meminimalisir penyebaran virus corona jenis baru.

Tahukah anda ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan masker untuk mencapai proteksi yang maksimal?. Salah satunya , saat menggunakan masker kain, masyarakat juga harus berhati-hati untuk TIDAK menyentuh mata, hidung, dan mulut saat melepasnya. Segera cuci tangan setelah melepas masker kain dan rajin mencuci masker kain.

BACA JUGA :

TIPS MENGGUNAKAN MASKER
  1. Mencuci Tangan

Cucilah tangan dengan sabun sebelum menggunakan masker. Setidaknya lakukan selama -+ 20 detik dengan mengikuti tahapan mencuci tangan yang baik dan benar

  1. Aturan Menggunakan Masker dengan Benar

Masker medis memiliki 2 bagian. Bagian berwarna Hijau/Biru untuk bagian luar , sedangkan bagian Putih untuk bagian dalam. Sedangkan untuk masker kain , gunakanlah masker dalam kondisi kering (tidak lembab) kemudian cucilah masker kain setelah digunakan.

Karies Gigi Balita Indonesia Tertinggi di Dunia, Apa Solusinya?

Karies Gigi Balita Indonesia Tertinggi di Dunia, Apa Solusinya?

Liputan6.com, Jakarta Guru Besar Bidang Ilmu Kesehatan Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran (Unpad), Prof Dr Yetty Herdiyati Sumantadiredja drg, Sp.Ped (K), mengatakan karies gigi pada balita masih menjadi permasalahan dental tertinggi di Indonesia.

Angka prevalensi karies gigi pada balita di Indonesia berada pada angka 90,05 persen, dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) PBB juga menyebut, Indonesia memiliki prevalensi Early Childhood Caries (ECC) tertinggi pada anak usia tiga hingga lima tahun.

Dalam siaran pers Humas Unpad, di Bandung, Jumat, Yetty memaparkan ECC atau karies gigi pada balita disebabkan empat faktor utama, yaitu gigi yang rentan, plak, substrat, dan waktu.

Jika dikaitkan, penyebab karies ini didasarkan adanya hubungan yang tidak seimbang antara daya tahan gigi dan faktor kariogenik, yaitu gigi yang kuat akan lebih tahan terhadap serangan karies dibandingkan gigi yang rentan.

Ia menuturkan, ECC ini awalnya ditandai adanya gambaran titik putih (white spot) pada gigi insisif sulung rahang atas sepanjang margin gingiva atau bagian tepi gusi yang menyelimuti gigi.

“Gambaran ini terlihat pada usia 1 tahun yang diikuti kerusakan insisif lateral gigi,” kata dia, dikutip dari AntaraNews, Jumat (9/2/2018).

Akibat yang terjadi jika karies gigi diabaikan

Menurut Yetty, apabila gejala ini tidak diintervensi, menjelang usia dua tahun karies dalam berlanjut hingga merusak seluruh mahkota gigi insisif sentral rahang atas dan diikuti kerusakan pada molar satu rahang bawah.

“Jika masih tetap dibiarkan, pada usia tiga dan empat tahun, karies dapat berlanjut mengenai gigi molar kedua rahang bawah,” paparnya.

Puncaknya, ketika di usia lima tahun, seluruh gigi sulung, kecuali kaninus sulung, seluruhnya telah terkena karies.

“Penyebab ECC dikarakteristikkan adanya kolonisasi awal Streptococcus mutans dalam rongga mulut. Ini merupakan bakteri komensal dalam rongga mulut dan berperan penting dalam pembentukan karies,” kata Yetty.

Lebih lanjut ia menjelaskan, Streptococcus mutans memiliki 4 enzim glukosiltransferase (GTF), yaitu GTF A hingga GTF D. Dari empat enzim tersebut, enzim GTF B dan GTF C yang dapat menyebabkan terbentuk karies. Pengeluaran enzim GTF ini dikode oleh Gen gtf B dan gtf C yang mampu menghasilkan glukan tidak larut. Penanganan ECC tidak bisa hanya melibatkan anak dan dokter gigi saja. Peran orang tua, pengasuh, dan pemerintah juga penting dilibatkan dalam penanganan tersebut.

Liputan6.com, Jakarta Guru Besar Bidang Ilmu Kesehatan Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran (Unpad), Prof Dr Yetty Herdiyati Sumantadiredja drg, Sp.Ped (K), mengatakan karies gigi pada balita masih menjadi permasalahan dental tertinggi di Indonesia.

Angka prevalensi karies gigi pada balita di Indonesia berada pada angka 90,05 persen, dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) PBB juga menyebut, Indonesia memiliki prevalensi Early Childhood Caries (ECC) tertinggi pada anak usia tiga hingga lima tahun.

Dalam siaran pers Humas Unpad, di Bandung, Jumat, Yetty memaparkan ECC atau karies gigi pada balita disebabkan empat faktor utama, yaitu gigi yang rentan, plak, substrat, dan waktu.

Jika dikaitkan, penyebab karies ini didasarkan adanya hubungan yang tidak seimbang antara daya tahan gigi dan faktor kariogenik, yaitu gigi yang kuat akan lebih tahan terhadap serangan karies dibandingkan gigi yang rentan.

Ia menuturkan, ECC ini awalnya ditandai adanya gambaran titik putih (white spot) pada gigi insisif sulung rahang atas sepanjang margin gingiva atau bagian tepi gusi yang menyelimuti gigi.

“Gambaran ini terlihat pada usia 1 tahun yang diikuti kerusakan insisif lateral gigi,” kata dia, dikutip dari AntaraNews, Jumat (9/2/2018)


Akibat yang terjadi jika karies gigi diabaikan

Menurut Yetty, apabila gejala ini tidak diintervensi, menjelang usia dua tahun karies dalam berlanjut hingga merusak seluruh mahkota gigi insisif sentral rahang atas dan diikuti kerusakan pada molar satu rahang bawah.

“Jika masih tetap dibiarkan, pada usia tiga dan empat tahun, karies dapat berlanjut mengenai gigi molar kedua rahang bawah,” paparnya.

Puncaknya, ketika di usia lima tahun, seluruh gigi sulung, kecuali kaninus sulung, seluruhnya telah terkena karies.

“Penyebab ECC dikarakteristikkan adanya kolonisasi awal Streptococcus mutans dalam rongga mulut. Ini merupakan bakteri komensal dalam rongga mulut dan berperan penting dalam pembentukan karies,” kata Yetty.

Lebih lanjut ia menjelaskan, Streptococcus mutans memiliki 4 enzim glukosiltransferase (GTF), yaitu GTF A hingga GTF D. Dari empat enzim tersebut, enzim GTF B dan GTF C yang dapat menyebabkan terbentuk karies. Pengeluaran enzim GTF ini dikode oleh Gen gtf B dan gtf C yang mampu menghasilkan glukan tidak larut. Penanganan ECC tidak bisa hanya melibatkan anak dan dokter gigi saja. Peran orang tua, pengasuh, dan pemerintah juga penting dilibatkan dalam penanganan tersebut.


Solusi untuk mencegah karies gigi

Menurut Yetty, pencegahan ECC mengutamakan pada promosi tingkah laku dalam merawat gigi, seperti menyikat gigi, keterjangkauan fluoride atau senyawa dalam pasta gigi yang berfungsi menyehatkan gigi, hingga kebiasaan pola makan sehat.

Dia mengatakan, orang tua perlu mendampingi anak dalam menyikat gigi. Penggunaan pasta gigi berfluoride minimal dua hari sekali dilakukan sesegera mungkin jika gigi sulung anak mengalami erupsi. Proses ini dilakukan untuk mengurangi terjadi ECC.

“Selain itu, pencegahan ECC juga dilakukan melalui pendekatan pola makan anak,” imbuhnya.

Yetti menuturkan, kontrol terhadap makanan yang dapat menyebabkan karies perlu dilakukan dari usia 12 bulan dan terus dijaga selama masa anak-anak. Orangtua juga perlu melatih bayi untuk menghentikan kebiasaan minum susu dalam botol antara usia 12-16 bulan, dan mulai membiasakan minum dari gelas.

Seluruh penjelasan di atas disampaikan Guru Besar Bidang Ilmu Kesehatan Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Unpad Prof Dr Yetty Herdiyati Sumantadiredja, drg, Sp.Ped (K), saat menyampaikan orasi ilmiah dalam rangka pelantikan dan pengukuhannya sebagai guru besar oleh Rektor Unpad, Prof Tri Hanggono Achmad, di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Kota Bandung, Selasa (8/2/2018).

Orasi ilmiah yang dibacakan Yetti berjudul “Peranan Gen gtf B/C yang Mengekspresikan Enzim Glukosiltransferase Streptococcus Mutans pada ECC untuk Menuju Anak Indonesia Sehat”.

(Ajat Sudrajat/AntaraNews)

Sumber : Liputan6.com

Public Safety Center (PSC) 119 Siap Digunakan

 

Jakarta, 22 Juni 2016, PSC 119 merupakan layanan cepat tanggap darurat kesehatan. Layanan ini dibenuk tahun 2016 bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan untuk membantu penangan kesehatan terhadap masyarakat yang tidak hanya berhubungan dengan kecelakaan tetapi juga dalam situasi kritis.
PSC 119 kami bentuk untuk mempercepat penanganan dan pertolongan pada korban yang membutuhkan penangan segera, ujar Menkes Nila F. Meloek saat meninjau dan stasiun Balapan Solo dan Puskesmas Gajahan, Solo (22/6).

Sebagai contoh bila ada masyarakat yang menghubungi 119, maka call center akan menanyakan dimana lokasi kejadian berada dan akan mengarahkan ambulans dari Puskesmas, pos kesehatan, rumah sakit pemerintah yang paling dekat dengan lokasi kejadian.

Sementara itu, Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes dr. Bambang mengatakan layanan 119 kedepannya akan terintegrasi dengan layanan kepolisian dan kebakaran.

PSC 119 saat ini baru menggunakan nomor lokal, tapi ke depan akan jadi nomor layanan yang terintegrasi dengan lyanan kepolisian dan kebakaran. Untuk saat ini baru layanan kesehatan dan rumah sakit, ujarnya.

Walikota Solo/Surakarta juga menambahkan terdapat 17 Puskesmas yang memiliki layanan ICU dan siap melayani masyarakat.

Kami memiliki Puskesmas yang memiliki layanan lengkap tidak hanya di Puskesmas Gajahan ini, tidak hanyak buat mudik tetapi juga buat  sehari-hari, ujar Walikota Solo.Di kota Solo PSC 119 terdapat di Puskesmas Gajahan. Saat ini sudah terdapat di 27 titik/kota.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline (kode lokal) 1500-567,SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak[at]kemkes[dot]go[dot]id.

Sumber: www.depkes.go.id

 

4 Tips dari Kemenkes Agar Tetap Sehat di Musim Hujan

Nah, berikut lima cara yang bisa dilakukan untuk tetap sehat di musim hujan seperti disampaikan Kementerian Kesehatan ditulis Rabu (15/2/2017).

1. Jaga pola makan

Asupan gizi merupakan aspek penting bagi daya tahan tubuh. Bila kurang nutrisi, daya tahan tubuh menurun. Sehingga kuman penyakit lebih mudah masuk dan berkembang.

Agar memenuhi zat gizi tercukupmaka memperhatikan pola makan sehat dengan mengonsumsi karbohidrat, lauk pauk, sayuran, buah-buahan dan minuman.

Frekuensi makan per hari harus tetap diperhatikan dari sarpan, makan siang dan makan malam. “Yang harus diprioritaskan adlah sarapan. Ini adlah kegiatanan makan dan minum dari bangun hingga jam sembilan pagi untuk memenuhi 15-30 persen kebutuhan gizi harian,” tulis Kemenkes dalam rilisnya.

Disarankan juga mengonsumsi probiotik agar terhindar dari infeksi seperti flu dan diare. Mengonsumsi probiotik membantu menjaga ususu agar sistem pencernaan lancar. Contoh makanan probiotik adalah yogurt, tahu, tempe, dan acar.

2. Olah raga

Olah raga merupakan cara sederhana dan mudah tapi besar manfaatnya. Latihan fisik selama 30 menit mampu mengaktifkan sel darah putih. Dalam buku Guyton dan Hall, sel darah putih berfungsi menyediakan pertahan yagn cepat dan kuat terhadap daerah tubuh yang mengalami peradangan.

Olah raga tidak harus dilakukan di luar ruangan, tapi juga dalam ruangan. Sehingga meski hujan, tetap bisa berolahraga.

3. Jaga kualitas tidur

Tidur merupakan waktu reses tubuh untuk pemulihan seluruh sistem anggota badan. Kualitas tidur itu sangat penting dalam menjaga kesehatan.

Pada anak usia prasekolah usia 3-5 tahun membutuhkan tidur 10-13 jam, anak sekolah usia 6-13 tahun membutuhkan tidur 9-11 jam. Lalu, remaja usia 14-17 tahun butuh 8-10 jam. Usia 18-25 tahun direkomendasikan tidur selama 7-9 jam.

Kemudian usia dewasa 26-64 tahun membutuhkan tidur 7-9 jam. Lalu para lanjut usia direkomendasikan tidur selama 7-8 jam.

4. Kelola stres

Saat musim hujan, seseorang mudah stres. Misalnya karena terlambat bekerja gara-gara hujan turun.
Ketika seseorang stres akan berdampak secara fisiologis. Seperti gelisah, detak jantung meningkat dan mudah letih. Oleh karena itu penting sekali mengelola stres.

Dalam buku Psikolog karya Carole Wade dan Carole Tavris, salah satu cara mengelola stres dengan menenangkan diri dengan relaksasi. Relaksasi dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun.

Caranya dengan membiarkan tubuh menerima ransangan apapun baik berupa suara, bau atau sentuhan yang dapat menenangkan diri.

Cara Mudah Mengeluarkan Dahak Yang Membandel

Cara menghilangkan lendir atau dahak pada tenggorokan berikut ini mungkin bermanfaat bagi kamu yang kerap mengalaminya. Ada banyak hal yang bisa menyebabkan penumpukan lendir atau dahak dalam tenggorokan dan gejala ini sangat umum terjadi.
Sebelum mengikuti langkah langkah untuk mengeluarkan dahak, yang pertama yang kudu kamu lakukan adalah sedapat mungkin berusaha menghindari penyebab dari meningkatnya produksi lendir dalam tenggorokan.
Ada banyak hal yang dapat menyebabkan peningkatan produksi lendir tenggorokan, diantaranya adalah infeksi, iritasi oleh polusi udara, asap, debu, rokok, dan makanan.
Berikut beberapa cara alami yang bisa kamu lakukan untuk mengeluarkan dahak yang membandel di dalam tenggorokan:
1. Batuk atau memaksa dahak untuk keluar
Cara paling mudah menghilangkan lendir di tenggorokan adalah dengan mengeluarkannya secara manual. Caranya yakni dengan batuk. Tentu saja batuknya harus efektif atau benar. Bagaimana caranya agar batuk efektif mengeluarkan dahak? Cobalah duduk dalam posisi badan tegak, siapkan tisur dan wadah yang digunakan untuk menampung dahak. Lalu hirup nafas dalam dalam melalui hidung, tahan sebentar, kemudian secara perlahan keluarkan melalui mulut. Ulangi cara ini hingga dua kali. Kemudian pada saat tarikan nafas yang ketiga, hiruplah nafas dalam-dalam melalui hidung, tahan hingga hitungan ketiga, lalu batukkan sekuatnya sampai dua atau tiga kali berturut-turut tanpa menghirup nafas.
2. Jahe
Jahe merupakan salah satu jenis tanaman herbal yang berkhasiat membantu menyembuhkan berbagai penyakit, khususnya penyakit pada saluran pernafasan. Minum air jahe hangat dapat menghilangkan lendir di tenggorokan sekaligus menyembuhkan batuknya. Cara membuatnya yaitu siapkan dua ruas jahe, cuci hingga bersih lalu digepuk supaya aroma segarnya lebih terasa. Masukkan jahe pada satu gelas air panas, dan tambahkan gula secukupnya sebagai pemanis. Kemudian minum selagi hangat. Minum ramuan jahe secara rutin 2 kali sehari maka lendir Anda akan segera hilang.
3. Jeruk nipis
Air jeruk nipis merupakan salah satu minuman yang cukup efektif untuk menghilangkan lendir di tenggorokan. Selain baunya yang khas juga rasanya yang menyegarkan serta mampu melegakan tenggorokan. Kandungan vitamin C dalam jeruk nipis ini dapat meningkatkan daya tahan tubuh sehingga mampu mengusir virus penyebab lendir di tenggorokan. Cara membuatnya pun cukup mudah, siapkan satu buah jeruk nipis lalu peras airnya dan campurkan pada segelas air panas. Tambahkan gula secukupnya atau madu secukupnya, kemudian minum selagi hangat.
4. Daun mint
Daun mint selama ini digunakan sebagai bahan alami pembuat obat batuk pengencer dahak. Oleh karena itu khasiat dari daun mint ini tidak lagi diragukan. Cara penyajian, siapkan beberapa lembar daun mint, jangan lupa dicuci hingga bersih lalu masukan pada segelas air panas. Tunggu beberapa saat hingga meresap, kemudian minum saat hangat.
sumber: medisiana.net

DIFTERI

Difteri adalah infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat memengaruhi kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa.

Menurut World Health Organization (WHO), tercatat ada 7.097 kasus difteri yang dilaporkan di seluruh dunia pada tahun 2016. Di antara angka tersebut, Indonesia turut menyumbang 342 kasus. Sejak tahun 2011, kejadian luar biasa (KLB) untuk kasus difteri menjadi masalah di Indonesia. Tercatat 3.353 kasus difteri dilaporkan dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2016 dan angka ini menempatkan Indonesia menjadi urutan ke-2 setelah India dengan jumlah kasus difteri terbanyak. Dari 3.353 orang yang menderita difteri, dan 110 di antaranya meninggal dunia. Hampir 90% dari orang yang terinfeksi, tidak memiliki riwayat imunisasi difteri yang lengkap.

Difteri termasuk salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dan imunisasi terhadap difteri termasuk ke dalam program imunisasi wajib pemerintah Indonesia. Imunisasi difteri yang dikombinasikan dengan pertusis (batuk rejan) dan tetanus ini disebut dengan imunisasi DTP. Sebelum usia 1 tahun, anak diwajibkan mendapat 3 kali imunisasi DTP. Cakupan anak-anak yang mendapat imunisasi DTP sampai dengan 3 kali di Indonesia, pada tahun 2016, sebesar 84%. Jumlahnya menurun jika dibandingkan dengan cakupan DTP yang pertama, yaitu 90%.

Penyebab Difteri

Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae Penyebaran bakteri ini dapat terjadi dengan mudah, terutama bagi orang yang tidak mendapatkan vaksin difteri. Ada sejumlah cara penularan yang perlu diwaspadai, seperti:

  • Terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum.
  • Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk.
  • Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.

Bakteri difteri akan menghasilkan racun yang akan membunuh sel-sel sehat dalam tenggorokan, sehingga akhirnya menjadi sel mati. Sel-sel yang mati inilah yang akan membentuk membran (lapisan tipis) abu-abu pada tenggorokan. Di samping itu, racun yang dihasilkan juga berpotensi menyebar dalam aliran darah dan merusak jantung, ginjal, serta sistem saraf.

Terkadang, difteri bisa jadi tidak menunjukkan gejala apapun sehingga penderitanya tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi. Apabila tidak menjalani pengobatan dengan tepat, mereka berpotensi menularkan penyakit ini kepada orang di sekitarnya, terutama mereka yang belum mendapatkan imunisasi.

Gejala Difteri

Difteri umumnya memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul 2 hingga 5 hari. Gejala-gejala dari penyakit ini meliputi:

  • Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.
  • Demam dan menggigil.
  • Sakit tenggorokan dan suara serak.
  • Sulit bernapas atau napas yang cepat.
  • Pembengkakan kelenjar limfe pada leher.
  • Lemas dan lelah.
  • Pilek. Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah.

Difteri juga terkadang dapat menyerang kulit dan menyebabkan luka seperti borok (ulkus). Ulkus tersebut akan sembuh dalam beberapa bulan, tapi biasanya akan meninggalkan bekas pada kulit.

Segera periksakan diri ke dokter jika Anda atau anak Anda menunjukkan gejala-gejala di atas. Penyakit ini harus diobati secepatnya untuk mencegah komplikasi.

Diagnosis dan Pengobatan Difteri

Untuk menegakkan diagnosis difteri, awalnya dokter akan menanyakan beberapa hal seputar gejala yang dialami pasien. Dokter juga dapat mengambil sampel dari lendir di tenggorokan, hidung, atau ulkus di kulit untuk diperiksa di laboratorium.

Apabila seseorang diduga kuat tertular difteri, dokter akan segera memulai pengobatan, bahkan sebelum ada hasil laboratorium. Dokter akan menganjurkannya untuk menjalani perawatan dalam ruang isolasi di rumah sakit. Lalu langkah pengobatan akan dilakukan dengan 2 jenis obat, yaitu antibiotik dan antitoksin.

Antibiotik akan diberikan untuk membunuh bakteri dan menyembuhkan infeksi. Dosis penggunaan antibiotik tergantung pada tingkat keparahan gejala dan lama pasien menderita difteri.

Sebagian besar penderita dapat keluar dari ruang isolasi setelah mengonsumsi antibiotik selama 2 hari. Tetapi sangat penting bagi mereka untuk tetap menyelesaikan konsumsi antibiotik sesuai anjuran dokter, yaitu selama 2 minggu.

Penderita kemudian akan menjalani pemeriksaan laboratorium untuk melihat ada tidaknya bakteri difteri dalam aliran darah. Jika bakteri difteri masih ditemukan dalam tubuh pasien, dokter akan melanjutkan penggunaan antibiotik selama 10 hari.

Sementara itu, pemberian antitoksin berfungsi untuk menetralisasi toksin atau racun difteri yang menyebar dalam tubuh. Sebelum memberikan antitoksin, dokter akan mengecek apakah pasien memiliki alergi terhadap obat tersebut atau tidak. Apabila terjadi reaksi alergi, dokter akan memberikan antitoksin dengan dosis rendah dan perlahan-lahan meningkatkannya sambil melihat perkembangan kondisi pasien.

Bagi penderita yang mengalami kesulitan bernapas karena hambatan membran abu-abu dalam tenggorokan, dokter akan menganjurkan proses pengangkatan membran. Sedangkan penderita difteri dengan gejala ulkus pada kulit dianjurkan untuk membersihkan bisul dengan sabun dan air secara seksama.

Selain penderita, orang-orang yang berada di dekatnya juga disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter karena penyakit ini sangat mudah menular. Misalnya, keluarga yang tinggal serumah atau petugas medis yang menangani pasien difteri.

Dokter akan menyarankan mereka untuk menjalani tes dan memberikan antibiotik. Terkadang vaksin difteri juga kembali diberikan jika dibutuhkan. Hal ini dilakukan guna meningkatkan proteksi terhadap penyakit ini.

Komplikasi Difteri

Pengobatan difteri harus segera dilakukan untuk mencegah penyebaran sekaligus komplikasi yang serius, terutama pada penderita anak-anak. Diperkirakan 1 dari 5 penderita balita dan lansia di atas 40 tahun meninggal dunia akibat komplikasi difteri.

Jika tidak diobati dengan cepat dan tepat, toksin dari bakteri difteri dapat memicu beberapa komplikasi yang berpotensi mengancam jiwa. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Masalah pernapasan. Sel-sel yang mati akibat toksin yang diproduksi bakteri difteri akan membentuk membran abu-abu yang dapat menghambat pernapasan. Partikel-partikel membran juga dapat luruh dan masuk ke paru-paru. Hal ini berpotensi memicu reaksi peradangan pada paru-paru sehingga fungsinya akan menurun secara drastis dan menyebabkan gagal napas.
  • Kerusakan jantung. Selain paru-paru, toksin difteri berpotensi masuk ke jantung dan menyebabkan peradangan otot jantung atau miokarditis. Komplikasi ini dapat menyebabkan masalah, seperti detak jantung yang tidak teratur, gagal jantung, dan kematian mendadak.
  • Kerusakan saraf. Toksin dapat menyebabkan penderita mengalami masalah sulit menelan, masalah saluran kemih, paralisis atau kelumpuhan pada diafragma, serta pembengkakan saraf tangan dan kaki. Paralisis pada diafragma akan membuat pasien tidak bisa bernapas sehingga membutuhkan alat bantu pernapasan atau respirator. Paralisis diagfragma dapat terjadi secara tiba-tiba pada awal muncul gejala atau berminggu-minggu setelah infeksi sembuh. Karena itu, penderita difteri anak-anak yang mengalami komplikasi umumnya dianjurkan untuk tetap di rumah sakit hingga 1,5 bulan.
  • Difteri hipertoksik. Komplikasi ini adalah bentuk difteria yang sangat parah. Selain gejala yang sama dengan difteri biasa, difteri hipertoksik akan memicu pendarahan yang parah dan gagal ginjal.

Pencegahan Difteri dengan Vaksinasi

Langkah pencegahan paling efektif untuk penyakit ini adalah dengan vaksin. Pencegahan difteri tergabung dalam vaksin DTP. Vaksin ini meliputi difteri, tetanus, dan pertusis atau batuk rejan.

Vaksin DTP termasuk dalam imunisasi wajib bagi anak-anak di Indonesia. Pemberian vaksin ini dilakukan 5 kali pada saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, satu setengah tahun, dan lima tahun. Selanjutnya dapat diberikan booster dengan vaksin sejenis (Tdap/Td) pada usia 10 tahun dan 18 tahun. Vaksin Td dapat diulangi setiap 10 tahun untuk memberikan perlindungan yang optimal.

Apabila imunisasi DTP terlambat diberikan, imunisasi kejaran yang diberikan tidak akan mengulang dari awal. Bagi anak di bawah usia 7 tahun yang belum melakukan imunisasi DTP atau melakukan imunisasi yang tidak lengkap, masih dapat diberikan imunisasi kejaran dengan jadwal sesuai anjuran dokter anak Anda. Namun bagi mereka yang sudah berusia 7 tahun dan belum lengkap melakukan vaksin DTP, terdapat vaksin sejenis yang bernama Tdap untuk diberikan.

Perlindungan tersebut umumnya dapat melindungi anak terhadap difteri seumur hidup.

Ditinjau oleh : dr. Marianti

Pencegahan dan Penanganan Diare Pada Anak

Pencegahan dan Penanganan Diare Pada Anak

Diare atau mencret adalah suatu kondisi dimana seseorang buang air besar 3 kali atau lebih dalam satu hari dan tinja atau feses yang keluar berupa cairan encer atau sedikit berampas, kadang juga bisa disertai darah atau lendir tergantung pada penyebabnya. Menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), anak dinyatakan menderita diare bila buang air besarnya “lebih encer” dan “lebih sering” dari biasanya. Gejala ikutan lainnya adalah demam dan muntah. Kadangkala gejala muntah dan demam mendahului gejala mencretnya.
Jenis Diare
Berdasarkan jangka waktu terjadinya, diare dibagi menjadi dua, yaitu diare akut dan kronis. Diare akut terjadi sampai dengan 7 hari, sedangkan diare kronis terjadi lebih dari 2 minggu. Di Indonesia, lebih banyak kasus diare akut dibandingkan yang kronis.
Pola Umum Buang Air Besar Pada Bayi dan Anak-anak
Sebelum membicarakan lebih jauh mengenai diare, sebaiknya Bunda mengenali pola umum buang air besar (BAB) pada bayi dan anak-anak. Pada umumnya, anak buang air besar sesering-seringnya 3 kali sehari dan sejarang-jarangnya sekali tiap 3 hari. Bentuk tinja tergantung pada kandungan air dalam tinja. Pada keadaan normal, tinja berbentuk seperti pisang. Dilihat dari kandungan airnya bentuk tinja bervariasi mulai dari “cair” (kadar airnya paling tinggi, biasanya terjadi pada diare akut), “lembek” (seperti bubur), “berbentuk” (tinja normal, seperti pisang), dan “keras” (kandungan air sedikit seperti pada keadaan sembelit). Pada bayi berusia 0-2 bulan, apalagi yang minum ASI, frekuensi buang air besarnya lebih sering lagi, yaitu bisa 8-10 kali sehari dengan tinja yang encer, berbuih dan berbau asam. Selama berat badan bayi meningkat normal, hal tersebut tidak tergolong diare, tetapi merupakan intoleransi laktosa sementara akibat belum sempurnanya perkembangan saluran cerna.
Warna Tinja Normal
Warna tinja yang normal adalah kuning kehijauan, tetapi dapat bervariasi tergantung makanan yang dikonsumsi anak. Yang perlu diperhatikan adalah bila tinja berwarna merah (mungkin darah) atau putih seperti dempul (pada penyakit hati).
Penyebab Diare Pada Anak
Sebagian besar diare disebabkan oleh infeksi rotavirus (sekitar 90%). Sebagian kecil diare dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, parasit, jamur. Diare dapat dipicu pemakaiaan antibiotik (antibiotic induced diarhea). Sebagian kecil lagi disebabkan oleh keracunan makanan, alergi, dll.
 
Komplikasi Diare
Komplikasi diare adalah dehidrasi yaitu kekurangan cairan. Terdapat 3 keadaan akibat dehidrasi, yaitu:
  1. Tanpa dehidrasi (kehilangan cairan <5% Berat Badan). Tandanya anak tetap aktif, keinginan untuk minum seperti biasa karena rasa haus tidak meningkat, kelopak mata tidak cekung, buang air kecil (BAK) sering.
  2. Dehidrasi ringan sedang (kehilangan cairan 5-10% Berat Badan). Tandanya anak gelisah atau rewel, anak ingin minum terus karena rasa haus meningkat, kelopak mata cekung, BAK mulai berkurang.
  3. Dehidrasi berat (kehilangan cairan >10% Berat Badan). Tandanya anak lemas atau tidak sabar, tidak dapat minum, kelopak mata sangat cekung, pada uji cubit kulit kembali lebih dari 2 detik. Agar lebih mudah gunakan kulit perut.
Untuk menilai kondisi dehidrasi pada anak ada 4 parameter yang bisa digunakan yaitu aktivitas, rasa haus, kelopak mata, buang air kecil, dan uji turgor atau uji cubit. Lihat kelopak mata anak, apakah cekung atau tidak. Anak harus kencing dalam waktu 6-8 jam, jika lebih dari 8 jam tidak kencing maka dehidrasi ringan. Untuk anak yang lebih besar batas kencingnya 12 jam. Uji cubit paling gampang dilakukan pada kulit perut, kulit harus kembali dalam 2 detik.
Kapan anak dibawa ke dokter?

Orangtua tidak perlu panik jika anaknya diare. Lihat dahulu kondisi anak yaitu:

  • Apakah ada gejala dehidrasi.  Dehidrasi ini berbahaya. Jika ada tanda-tanda dehidrasi, sebaiknya segera dibawa ke dokter. Kalau tidak ada, anak dapat dirawat di rumah. Anak dengan dehidrasi ringan, tetapi anak tidak mau makan dan minum atau muntah setiap makan dan minum, juga harus dibawa ke dokter.
  • Apakah tinja berwarna merah (disertai darah). Kemungkinan diagnosisnya adalah disentri, yang bisa disebabkan oleh bakteri ataupun amuba. Pada diare ini, maka perlu dibawa ke dokter untuk mendapatkan tatalaksana yang tepat.
Tatalaksana Diare di Rumah
Diare adalah mekanisme tubuh mengeluarkan racun, bakteri, virus. Anak-anak tidak boleh dihentikan diarenya, karena menghambat pergerakan usus. Seolah-olah diarenya berhenti tapi di dalam masih berlangsung. Efek sampingnya usus lecet. Jadi, yang bisa Bunda lakukan antara lain:
  • Terusakan pemberian ASI jika anak masih menyusu pada Bunda, diperbanyak kuantitas dan frekuensi pemberiannya.
  • Rehidrasi. Berikan cairan lebih dari biasanya. Berikan cairan rehidrasi oral khusus anak (oralit anak) yang mengandung elektrolit untuk mencegah terjadinya dehidrasi. Anak yang diare jangan hanya diberi air saja, sebaiknya diberikan cairan yang mengandung elektrolit (natrium, kalium) dan kalori. Jangan menggunakan oralit dewasa, karena osmolaritasnya lebih tinggi. Pada tahun 2004 WHO bersama UNICEF mengumumkan kesepakatan mengubah penggunaan cairan rehidrasi oral yang lama menjadi cairan rehidrasi oral yang memiliki osmolaritas rendah (hipoosmolar). Oralit dewasa bisa digunakan asalkan dincerkan 2x, misal yang harusnya 1 sachet untuk 200 ml, maka dibuat 1 sachet untuk 400 ml. Atau Bunda bisa membuat larutannya sendiri. Menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) :
Larutan Garam-Gula Larutan Garam-Tajin
Bahan terdiri dari 1 sendok teh gula pasir, seperempat sendok teh garam dapur dan 1 gelas (200 ml) air matang. Setelah diaduk rata pada sebuah gelas diperoleh larutan garam-gula yang siap digunakan. Bahan terdiri dari 6 (enam) sendok makan munjung (100 gram) tepung beras, 1 (satu) sendok teh (5 gram) garam dapur, 2 (dua) liter air. Setelah dimasak hingga mendidih akan diperoleh larutan garam-tajin yang siap digunakan.
  • Selain cairan rehidrasi oral hipoosmolar, WHO dan UNICEF juga merekomendasikan penggunaan zinc sebagai terapi tambahan untuk diare yang diberikan selama 10-14 hari walaupun diare sudah berhenti. Kedua cara ini dinilai sederhana dan murah. Manfaat zinc yaitu dapat meningkatkan imunitas, mengurangi lama, tingkat keparahan dan komplikasi diare serta mencegah berulangnya kejadian diare 2-3 bulan setelah pengobatan. Di indonesia pemberian zinc bersama cairan rehidrasi oral hipoosmolar juga direkomendasikan oleh IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) dan sudah mulai diperkenalkan sejak bulan februari 2007. Zinc tersedia dalam bentuk tablet dan sirup, bentuk tablet adalah tablet dispersible yang dalam waktu 30 detik atau kurang dari 60 detik telah larut dalam 5 ml air putih atau air susu. Cara pemberiannya tergantung pada umur anak yaitu untuk anak berusia kurang dari 6 bulan diberikan zinc sebanyak 10 mg sekali sehari selama 10-14 hari, sedangkan pada anak yang berusia lebih dari 6 bulan diberikan sebanyak 20 mg sekali sehari selama 10- 14 hari.
  • Anak jangan dipuasakan. Makanan harus tetap diberikan tapi hindari sayuran karena serat susah dicerna sehingga bisa meningkatkan frekuensi diarenya. Buah-buahan juga dihindari kecuali pisang dan apel karena mengandung kaolin, pektin, kalium yang berfungsi memadatkan tinja serta menyerap racun.
  • Obat yang boleh diberikan yaitu biakan bakteri hidup seperti lactobacillus. Contohnya Lacto-B, Lacto Bio, Protezin, dll.
  • Karena penyebab tersering adalah virus, maka tidak diperlukan antibiotik kecuali pada kasus yang terbukti ada infeksi bakteri misalnya penyakit kolera yang disebabkan Vibrio cholerae, penyakit disentri yang disebabkan bakteri atau amuba dengan ciri-ciri fesesnya bau sekali, ada lendir, darah, anaknya merasa sakit sekali saat mau BAB. Untuk membuktikan infeksi bakteri dilakukan dengan pemeriksaan feses rutin. Antibiotik yang digunakan harus berdasarkan resep dokter dan harus dihabiskan untuk mencegah terjadinya resistensi bakteri terhadap antibiotik tersebut!

Pencegahan Diare

  • Mencuci tangan. Anak harus diajarkan untuk mencuci tangannya, sedangkan pada bayi sering dilap tangannya. Bunda pun juga harus sering mencuci tangan, terutama saat memberi makan pada anak dan setelah memegang sesuatu yang kotor seperti setelah membersihkan kotoran bayi atau anak.
  • Tutup makanan dengan tudung saji.
  • Masak air minum dan makanan hingga matang.
  • Jaga kebersihan makanan dan minuman, berikan ASI eksklusif minimal 6 bulan karena ASI mengandung immunoglobulin. Untuk bayi yang “terpaksa”  menggunakan susu formula, maka dotnya harus dicuci bersih dan disterilkan dengan baik.
 -dr. Desie Dwi Wisudanti-
Sumber : doktermuslimah.com

Menguak Kandungan dan Bahaya Overdosis Obat PCC

Tercatat hingga tanggal 14 September 2017 lalu, 61 orang dilarikan ke sejumlah rumah sakit di Kendari, Sulawesi Tenggara akibat overdosis obat PCC. Kebanyakan dari korban ini merupakan siswa SD dan SMP. Ada yang langsung tak sadarkan diri bahkan juga meninggal setelah mengonsumsi obat itu. Beberapa pasien yang selamat dilaporkan menunjukkan kondisi mental yang terganggu sehingga harus diikat agar tak mengamuk. Apa yang sebenarnya terkandung dalam obat PCC, narkoba jenis baru yang dipasarkan untuk anak-anak sekolah ini?

Apa yang terkandung dalam obat PCC?

PCC itu sendiri adalah kepanjangan dari Paracetamol, Cafein, dan Carisoprodol. Mari kita bahas satu-persatu kandungannya, dan apaefek samping yang mungkin terjadi jika kombinasi obat-obatan ini disalahgunakan.

Paracetamol

Paracetamol atau disebut acetaminophen termasuk ke dalam jenis obat penghilang rasa sakit yang dijual bebas. Paracetamol biasanya digunakan untuk mengurangi gejala rasa sakit ringan hingga sedang seperti sakit kepala, flu, nyeri karena haid, sakit gigi, hingga nyeri sendi. Tablet paracetamol 500mg diminum setiap 6 jam sekali untuk mencapai efek penghilang rasa nyeri ini.

Ada beberapa efek samping paracetamol, seperti mual, sakit perut bagian atas, gatal-gatal, kehilangan nafsu makan, urin berwarna gelap serta feses pucat hingga warna kulit dan mata menjadi kuning. Namun, gejala-gejala seperti di atas tidak umum dirasakan oleh orang banyak tentu dengan mengonsumsi sesuai aturan.

Caffeine (kafein)

Caffeine atau kafein adalah zat yang terdapat pada kopi, teh ataupun cola untuk meningkatkan kesadaran, fokus, dan waspada. Makanya, ketika sehabis minum kopi rasa ngantuk Anda akan hilang atau berkurang. Atlet bahkan menjadikan kafein sebagai stimulan karena kemampuannya yang hebat serta kafein merupakan stimulan yang diizinkan penggunaannya oleh asosiasi atlet Amerika Serikat atau disebut National Collegiate Athletic Association (NCAA).

Dalam dunia medis, kafein biasa digunakan sebagai kombinasi dari painkiller. Dalam hal ini, kafein bisa ditambahkan bersama dengan paracetamol. Kafein juga digunakan untuk asma, infeksi kandung kemih, hingga tekanan darah rendah.

Kafein bekerja dengan memberi stimulasi pada sistem syaraf pusat, jantung dan otot pada tubuh. Efek dari kafein adalah meningkatkan tekanan darah serta melancarkan aliran urin. Namun, efek ini bisa jadi tidak akan terjadi pada orang yang sudah rutin meminum kafein.

Kafein juga memiliki aturan dalam penggunannya. Konsentrasi kafein yang terdapat pada urin tidak boleh mencapai 16mcg/mL. Untuk mencapai angka tersebut, dibutuhkan meminum 8 gelas kopi. Sehingga, pada umumnya kafein adalah zat yang relatif aman untuk rutin dikonsumsi.

Jika berlebihan, kafein bisa menyebabkan beberapa efek samping seperti cemas, serangan panik, naiknya asam lambung, peningkatan tekanan darah dan insomnia. Bagi Anda yang memang memiliki masalah kesehatan seperti maag atau hipertensi, efek ini bisa dengan mudah terjadi.

Carisoprodol

Jika paracetamol dan kafein adalah zat yang umum dikonsumsi dan relatif aman sehingga dijual bebas, berbeda halnya dengan carisoprodol. Carisoprodol adalah obat terbatas yang hanya bisa digunakan berdasarkan resep dokter. Obat ini termasuk jenis obat muscle relaxer atau obat yang membuat relaks otot yang akan memotong rasa sakit yang mengalir dari syaraf ke otak di kepala. Carisoprodol digunakan bersama untuk terapi fisik seperti otot dan tulang, misalnya pada cedera.

Mengonsumsi obat ini dapat menyebabkan ketergantungan. Karena efek ini, obat ini sebenarnya tidak dijual bebas dan hanya boleh dibeli dengan resep dokter. Efek sampingnya akan memengaruhi syaraf dan reaksi tubuh. Jika diminum bersama alkohol, obat ini akan membuat Anda merasakan kantuk yang amat parah hingga rasa pusing.

Ada beberapa efek samping yang dapat muncul dari konsumsi carisoprodol. Jika Anda mengalami gejala ini, segera hentikan penggunaan obat ini.

  • Kehilangan kesadaran
  • Merasa sangat lemah hingga koordinasi tubuh yang buruk
  • Detak jantung sangat cepat
  • Kejang-kejang
  • Kehilangan penglihatan

Apa yang terjadi jika ketiga obat ini diminum bersamaan?

Jika seseorang mencampur dan mengonsumsi ketiga obat ini secara bersamaan, sebagai obat PCC, efek masing-masing obat akan saling bekerja sama. Obat PCC pada akhirnya merusak susunan saraf pusat di otak. Perwujudan kerusakan saraf pusat otak bisa beragam, namun obat PCC secara spesifik memunculkan efek halusinasi yang tampak pada beberapa korban.

Perubahan mood yang signifikan juga sering terjadi, begitu juga dengan gangguan perilaku dan emosi juga dapat terjadi pada pengguna obat PCC. Gangguan ini sering disebut dengan istilah “bad trip” yaitu gejala cemas, ketakutan, dan panik yang terjadi pada pengguna obat. Selain itu, penyalahgunaan obat ini dapat menyebabkan overdosis hingga kematian.

sumber: Hellosehat.com

Oleh  Data medis direview oleh dr. Tania Savitri