5 Gejala Glaukoma Sesuai Jenisnya

Memahami bahaya glaukoma, penyakit penyebab kebutaan

KOMPAS.com – Glaukoma adalah gangguan mata karena saraf optik yang menghubungan mata ke otak rusak. Glaukoma yang tidak segera ditangani dapat membuat penderitanya kehilangan indra penglihatan. Penyakit mata ini dapat menyerang orang dari berbagai usia, tapi paling sering dialami orang lansia dengan usia 70-80 tahun.

penyebab glaukoma utamanya karena peningkatan tekanan di mata saat cairan tidak dapat mengalir lancar. Peningkatan tekanan ini lantas merusak saraf optik penghubung mata ke otak. Kondisi pemicu meningkatnya tekanan pada mata ini tidak jelas. Namun, ada beberapa faktor risiko penyebab glaukoma, seperti: Usia, Faktor keturunan, Gangguan mata seperti rabun jauh dan diabetes

Berikut beberapa gejala glaukoma sesuai jenisnya yang perlu diwaspadai:

1. Gejala glaukoma sudut terbuka Melansir American Academy of Ophthalmology, gejala glaukoma sudut terbuka di tahap awal umumnya belum terlihat. Penderita baru merasakan gejalanya saat penyakit mata ini sudah berkembang. Tanda utamanya yakni berkembangnya bintik buta di penglihatan perifer atau bagian samping. Kebanyakan penderita glaukoma sudut terbuka menyadari penyakitnya saat muncul gangguan penglihatan parah. Dengan gejalanya yang samar, tak pelak penyakit mata ini kerap dijuluki “si pencuri penglihatan diam-diam”.

2. Gejala glaukoma sudut tertutup Gejala glaukoma sudut tertutup muncul saat ada serangan penyakit. Beberapa tanda awalnya antara lain:

  • a. Pandangan kabur
  • b. Ada lingkaran cahaya di penglihatan
  • c. Sakit kepala ringat
  • d. Mata sakit

Orang dengan gejala glaukoma sudut tertutup harus segera memeriksakan diri ke dokter sebelum muncul serangan glaukoma. Serangan penyakit ini ditandai dengan:

  • a. Mata dan dahi sakit parag
  • b. Mata kemerahan
  • c. Penglihatan menurun dan pandangan kabur
  • d. Mata seperti ada pelangi atau lingkaran cahaya
  • e. Sakit kepala
  • f. Mual
  • g. Muntah

3. Gejala glaukoma tegangan normal Orang dengan kondisi glaukoma tegangan normal memiliki tekanan mata dalam kisaran normal. Kendati tekanannya normal, penderita mengalami gejala glaukoma seperti ada titik buta di bidang penglihatan dan saraf optik rusak.

4. Gejala glaukoma suspek Glaukoma suspek terjadi saat saraf optik penderita tidak rusak, tapi tekanan mata di atas rata-rata normal. Penderita yang mengalami gejala glaukoma di atas memang belum mengalami glaukoma, namun rentan terkena penyakit mata ini di kemudian hari. Mengingat banyak orang tidak merasakan gejala glaukoma, ada baiknya Anda tidak menyepelekan peningkatan tekanan mata di atas ambang batas normal.

5. Gejala glaukoma pigmen Glaukoma pigmen dapat terjadi saat pigmen bergesekan dengan bagian belakang iris mata. Gesekan tersebut dapat meningkatkan tekanan pada mata dan memicu glaukoma. Gejala glaukoma pigmen antara lain muncul lingkaran cahaya dan pandangan kabur setelah melakukan aktivitas fisik seperti olahraga. Penyakit glaukoma umumnya dapat diketahui lewat pemeriksaan kesehatan mata. Periksakan kondisi kesehatan mata ke dokter mata secara rutin minimal dua tahun sekali.

Sumber : health.kompas.com

Sudah Disiplin 3M Tetap Terpapar Covid-19, Lantas Bagaimana?

ilustrasi : Merdeka.com

KOMPAS.com – Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular AS, Dr Anthony Fauci setuju dengan ide sejumlah orang yang menggunakan dua buah masker sekaligus. Ini salah satunya terlihat pada pelantikan Presiden Joe Biden beberapa waktu lalu. Saat itu, beberapa orang terlihat melapisi ganda masker merek, termasuk menggunakan dua buah, untuk perlindungan lebih Menurut Fauci, menggunakan masker adalah ide yang baik, terutama untuk mencegah varian baru Covid-19 yang lebih mudah menular.

Adapun varian baru tersebut pertama kali diidentifikasi di Inggris. “Jika Anda menggunakan masker dan melapisinya lagi, maka masuk akal jika itu bisa lebih efektif.” “Itulah alasannya beberapa orang menggunakan dua masker atau melapisi dengan N95,” katanya dalam TODAY NBC News, seperti dilansir Insider.

Namun, tipe masker juga menjadi penting dan memengaruhi perlindungan yang ditawarkannya. Misalnya, menggunakan masker bedah atau N95 sebagai pelapis luar.

Opsi lainnya adalah menggunakan masker kain dua lapis pada bagian luar dan masker bedah sekali pakai pada bagian dalam, alih-alih menggunakan dua masker selapis.

Tiga lapisan masker yang digunakan masing-masingnya menawarkan perlindungan yang berbeda. Laisan terluar untuk melindungi kita dari cipratan dan tetesan ( droplet), lapisan tengah sebagai penyaring dan lapisan paling dalam untuk menyerap tetesan dari mulut kita, seperti air liur dan keringat.

Opsi lainnya yang juga bisa dicoba adalah menggunakan masker kain dua lapis dan mengenakan face shield untuk pelindung terluar, meskipun beberapa bukti ilmiah mengatakan bahwa masker lebih melindungi daripada face shield.

Namun, terlepas dari berapa lapis masker yang kita gunakan, kita harus tetap menerapkan protokol kesehatan lainnya dengan ketat. Selain menggunakan masker yang tepat, pastikan kamu juga mempraktikkan jaga jarak sosial, mencuci tangan secara rutin dan menghindari kerumunan, terutama di dalam ruangan.

Sumber: Kompas.com

Ada 3 Jenis Mutasi Virus Corona yang Ditemukan, Apa saja?

Bukan Hanya Satu, Virus Corona yang Tengah Mewabah Diklaim Pakar Terdiri  dari 3 Tipe - Pikiran-Rakyat.com

Mutasi virus Corona baru-baru ini ditemukan di Kota Manaus, Amazon, Brasil. Varian baru ini meningkatkan kekhawatiran lebih besar terhadap risiko penularannya.

Untuk membuktikannya, tim peneliti yang dipimpin oleh ahli imunologi Ester Sabino mengumpulkan data genom dari tes virus Corona di Manaus. Hasilnya menunjukkan, bahwa ada 42 persen kasus terinfeksi varian baru Corona yang memiliki mutasi mirip dengan varian Inggris dan Afrika Selatan.

“Ini frekuensi yang muncul di data kami pada bulan Desember. Kami menyelesaikan pada Januari dan jumlahnya meningkat,” kata Sabino yang dikutip dari Reuters, Minggu (24/1/2021).

Tak hanya Brasil, berikut beberapa mutasi virus Corona yang telah ditemukan dikutip dari berbagai sumber. Apa saja?

1. Mutasi virus Corona D614G

Sebelumnya, mutasi virus Corona D614G sempat ramai jadi perbincangan. Pasalnya, sebuah studi menjunjukkan bahwa mutasi virus Corona COVID-19 ini diklaim lebih menular 10 kali lipat.

Dikutip dari laman Times of India, D614G terletak di dalam protein yang menyusun spike virus yang digunakannya untuk masuk ke dalam sel manusia. Mutasi virus Corona ini mengubah asam amino pada posisi 614, dari D (asam aspartat) menjadi G (glisin), sehingga dinamakan D-614-G.

Mutasi ini diduga muncul beberapa saat setelah wabah awal Wuhan. Sesuai laporan BCC pada bulan Juli tahun 2020, strain ini terlihat pada sebanyak 97 persen sampel di seluruh dunia.

Bagaimana D614G menjadi dominan?

Ahli biologi komputasi & ahli genetik, Bette Korber menjelaskan kenapa D614G bisa menjadi mutasi yang dominan di seluruh dunia. Hal ini menunjukkan bahwa mutasi dari varian D614G memiliki penyebaran yang lebih tinggi dibandingkan virus aslinya.

Korber menjelaskan varian D614G begitu dominan, hingga kini menjadi pandemi. Varian ini sudah berlangsung selama beberapa waktu, bahkan mungkin sejak awal epidemi di tempat-tempat seperti Inggris Raya dan pantai timur AS.

2. Mutasi virus Corona B117

Mutasi virus Corona B117 pertama kali terdeteksi di Inggris menyebar luas. Sebagian negara pun sudah melaporkan kemunculan varian tersebut, termasuk di Malaysia dan Singapura.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) memprediksi jika mutasi virus Corona B117 akan jadi varian yang dominan, setidaknya di Amerika Serikat (AS), pada Maret 2021 mendatang. Ini terjadi karena varian tersebut bersifat lebih mudah menular sehingga kasusnya meningkat dengan pesat.

“Dalam model kami prevalensi B117 awalnya rendah. Tapi karena lebih mudah menular daripada varian yang ada sekarang, varian B117 ini menunjukkan pertumbuhan yang pesat di awal 2021 dan menjadi varian yang dominan di bulan Maret,” tulis tim CDC seperti dikutip dari laman.

Ketua tim bidang molekuler CDC, Dr Gregory Armstrong, menjelaskan ini artinya perlu upaya yang lebih keras untuk mengendalikan penyebaran virus COVID-19. Kasus dapat ditekan bila masyarakat dapat semakin disiplin dan proses vaksinasi dengan cakupan yang luas berjalan lancar.

“Bukan berarti kita tidak bisa melakukan apa-apa,” kata Gregory.

3. Mutasi virus Corona 501.V2

Mutasi virus Corona yang ditemukan dan diidentifikasi para ilmuwan di Afrika Selatan adalah 501.V2. Varian tersebut juga disebut menjelaskan bagaimana penyebaran COVID-19 di gelombang kedua di negara tersebut bisa terjadi begitu cepat.

“Varian ganas dari virus Corona telah terdeteksi di Afrika Selatan yang berpengaruh pada penyebaran cepat gelombang kedua, dan bisa menyerang orang yang lebih muda,” kata Menteri Kesehatan Zwelini Mkhize, yang dikutip dari laman Straits Times.

“Dikenal sebagai Varian 501.V2, itu diidentifikasi oleh para peneliti Afrika Selatan dan rinciannya telah dikirim ke Organisasi Kesehatan Dunia,” tambah Zwelini Mkhize dalam sebuah pernyataan.

Tim peneliti yang dipimpin Kwazulu-Natal Research Innovation and Sequencing Platform (KRISP) pun mengurutkan ratusan sampel Corona sejak wabah merebak di sana, dan menemukan mutasi virus Corona ini semakin mendominasi dua bulan belakangan.

Sumber : health.detik.com

Tips Penggunaan Masker

Tips Menggunakan Masker yang Baik dan Benar

Seiring dengan kelangkaan masker medis, masyarakat diminta memakai masker kain saat beraktivitas di luar rumah. Pemakaian masker medis pun hanya disarankan untuk petugas kesehatan yang harus bertugas di garda depan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan warga dunia agar memakai masker kain saat beraktivitas di luar ruangan. Pemakaian masker sangat diperlukan untuk meminimalisir penyebaran virus corona jenis baru.

Tahukah anda ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan masker untuk mencapai proteksi yang maksimal?. Salah satunya , saat menggunakan masker kain, masyarakat juga harus berhati-hati untuk TIDAK menyentuh mata, hidung, dan mulut saat melepasnya. Segera cuci tangan setelah melepas masker kain dan rajin mencuci masker kain.

BACA JUGA :

TIPS MENGGUNAKAN MASKER
  1. Mencuci Tangan

Cucilah tangan dengan sabun sebelum menggunakan masker. Setidaknya lakukan selama -+ 20 detik dengan mengikuti tahapan mencuci tangan yang baik dan benar

  1. Aturan Menggunakan Masker dengan Benar

Masker medis memiliki 2 bagian. Bagian berwarna Hijau/Biru untuk bagian luar , sedangkan bagian Putih untuk bagian dalam. Sedangkan untuk masker kain , gunakanlah masker dalam kondisi kering (tidak lembab) kemudian cucilah masker kain setelah digunakan.

Karies Gigi Balita Indonesia Tertinggi di Dunia, Apa Solusinya?

Karies Gigi Balita Indonesia Tertinggi di Dunia, Apa Solusinya?

Liputan6.com, Jakarta Guru Besar Bidang Ilmu Kesehatan Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran (Unpad), Prof Dr Yetty Herdiyati Sumantadiredja drg, Sp.Ped (K), mengatakan karies gigi pada balita masih menjadi permasalahan dental tertinggi di Indonesia.

Angka prevalensi karies gigi pada balita di Indonesia berada pada angka 90,05 persen, dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) PBB juga menyebut, Indonesia memiliki prevalensi Early Childhood Caries (ECC) tertinggi pada anak usia tiga hingga lima tahun.

Dalam siaran pers Humas Unpad, di Bandung, Jumat, Yetty memaparkan ECC atau karies gigi pada balita disebabkan empat faktor utama, yaitu gigi yang rentan, plak, substrat, dan waktu.

Jika dikaitkan, penyebab karies ini didasarkan adanya hubungan yang tidak seimbang antara daya tahan gigi dan faktor kariogenik, yaitu gigi yang kuat akan lebih tahan terhadap serangan karies dibandingkan gigi yang rentan.

Ia menuturkan, ECC ini awalnya ditandai adanya gambaran titik putih (white spot) pada gigi insisif sulung rahang atas sepanjang margin gingiva atau bagian tepi gusi yang menyelimuti gigi.

“Gambaran ini terlihat pada usia 1 tahun yang diikuti kerusakan insisif lateral gigi,” kata dia, dikutip dari AntaraNews, Jumat (9/2/2018).

Akibat yang terjadi jika karies gigi diabaikan

Menurut Yetty, apabila gejala ini tidak diintervensi, menjelang usia dua tahun karies dalam berlanjut hingga merusak seluruh mahkota gigi insisif sentral rahang atas dan diikuti kerusakan pada molar satu rahang bawah.

“Jika masih tetap dibiarkan, pada usia tiga dan empat tahun, karies dapat berlanjut mengenai gigi molar kedua rahang bawah,” paparnya.

Puncaknya, ketika di usia lima tahun, seluruh gigi sulung, kecuali kaninus sulung, seluruhnya telah terkena karies.

“Penyebab ECC dikarakteristikkan adanya kolonisasi awal Streptococcus mutans dalam rongga mulut. Ini merupakan bakteri komensal dalam rongga mulut dan berperan penting dalam pembentukan karies,” kata Yetty.

Lebih lanjut ia menjelaskan, Streptococcus mutans memiliki 4 enzim glukosiltransferase (GTF), yaitu GTF A hingga GTF D. Dari empat enzim tersebut, enzim GTF B dan GTF C yang dapat menyebabkan terbentuk karies. Pengeluaran enzim GTF ini dikode oleh Gen gtf B dan gtf C yang mampu menghasilkan glukan tidak larut. Penanganan ECC tidak bisa hanya melibatkan anak dan dokter gigi saja. Peran orang tua, pengasuh, dan pemerintah juga penting dilibatkan dalam penanganan tersebut.

Liputan6.com, Jakarta Guru Besar Bidang Ilmu Kesehatan Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran (Unpad), Prof Dr Yetty Herdiyati Sumantadiredja drg, Sp.Ped (K), mengatakan karies gigi pada balita masih menjadi permasalahan dental tertinggi di Indonesia.

Angka prevalensi karies gigi pada balita di Indonesia berada pada angka 90,05 persen, dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) PBB juga menyebut, Indonesia memiliki prevalensi Early Childhood Caries (ECC) tertinggi pada anak usia tiga hingga lima tahun.

Dalam siaran pers Humas Unpad, di Bandung, Jumat, Yetty memaparkan ECC atau karies gigi pada balita disebabkan empat faktor utama, yaitu gigi yang rentan, plak, substrat, dan waktu.

Jika dikaitkan, penyebab karies ini didasarkan adanya hubungan yang tidak seimbang antara daya tahan gigi dan faktor kariogenik, yaitu gigi yang kuat akan lebih tahan terhadap serangan karies dibandingkan gigi yang rentan.

Ia menuturkan, ECC ini awalnya ditandai adanya gambaran titik putih (white spot) pada gigi insisif sulung rahang atas sepanjang margin gingiva atau bagian tepi gusi yang menyelimuti gigi.

“Gambaran ini terlihat pada usia 1 tahun yang diikuti kerusakan insisif lateral gigi,” kata dia, dikutip dari AntaraNews, Jumat (9/2/2018)


Akibat yang terjadi jika karies gigi diabaikan

Menurut Yetty, apabila gejala ini tidak diintervensi, menjelang usia dua tahun karies dalam berlanjut hingga merusak seluruh mahkota gigi insisif sentral rahang atas dan diikuti kerusakan pada molar satu rahang bawah.

“Jika masih tetap dibiarkan, pada usia tiga dan empat tahun, karies dapat berlanjut mengenai gigi molar kedua rahang bawah,” paparnya.

Puncaknya, ketika di usia lima tahun, seluruh gigi sulung, kecuali kaninus sulung, seluruhnya telah terkena karies.

“Penyebab ECC dikarakteristikkan adanya kolonisasi awal Streptococcus mutans dalam rongga mulut. Ini merupakan bakteri komensal dalam rongga mulut dan berperan penting dalam pembentukan karies,” kata Yetty.

Lebih lanjut ia menjelaskan, Streptococcus mutans memiliki 4 enzim glukosiltransferase (GTF), yaitu GTF A hingga GTF D. Dari empat enzim tersebut, enzim GTF B dan GTF C yang dapat menyebabkan terbentuk karies. Pengeluaran enzim GTF ini dikode oleh Gen gtf B dan gtf C yang mampu menghasilkan glukan tidak larut. Penanganan ECC tidak bisa hanya melibatkan anak dan dokter gigi saja. Peran orang tua, pengasuh, dan pemerintah juga penting dilibatkan dalam penanganan tersebut.


Solusi untuk mencegah karies gigi

Menurut Yetty, pencegahan ECC mengutamakan pada promosi tingkah laku dalam merawat gigi, seperti menyikat gigi, keterjangkauan fluoride atau senyawa dalam pasta gigi yang berfungsi menyehatkan gigi, hingga kebiasaan pola makan sehat.

Dia mengatakan, orang tua perlu mendampingi anak dalam menyikat gigi. Penggunaan pasta gigi berfluoride minimal dua hari sekali dilakukan sesegera mungkin jika gigi sulung anak mengalami erupsi. Proses ini dilakukan untuk mengurangi terjadi ECC.

“Selain itu, pencegahan ECC juga dilakukan melalui pendekatan pola makan anak,” imbuhnya.

Yetti menuturkan, kontrol terhadap makanan yang dapat menyebabkan karies perlu dilakukan dari usia 12 bulan dan terus dijaga selama masa anak-anak. Orangtua juga perlu melatih bayi untuk menghentikan kebiasaan minum susu dalam botol antara usia 12-16 bulan, dan mulai membiasakan minum dari gelas.

Seluruh penjelasan di atas disampaikan Guru Besar Bidang Ilmu Kesehatan Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Unpad Prof Dr Yetty Herdiyati Sumantadiredja, drg, Sp.Ped (K), saat menyampaikan orasi ilmiah dalam rangka pelantikan dan pengukuhannya sebagai guru besar oleh Rektor Unpad, Prof Tri Hanggono Achmad, di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Kota Bandung, Selasa (8/2/2018).

Orasi ilmiah yang dibacakan Yetti berjudul “Peranan Gen gtf B/C yang Mengekspresikan Enzim Glukosiltransferase Streptococcus Mutans pada ECC untuk Menuju Anak Indonesia Sehat”.

(Ajat Sudrajat/AntaraNews)

Sumber : Liputan6.com

Public Safety Center (PSC) 119 Siap Digunakan

 

Jakarta, 22 Juni 2016, PSC 119 merupakan layanan cepat tanggap darurat kesehatan. Layanan ini dibenuk tahun 2016 bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan untuk membantu penangan kesehatan terhadap masyarakat yang tidak hanya berhubungan dengan kecelakaan tetapi juga dalam situasi kritis.
PSC 119 kami bentuk untuk mempercepat penanganan dan pertolongan pada korban yang membutuhkan penangan segera, ujar Menkes Nila F. Meloek saat meninjau dan stasiun Balapan Solo dan Puskesmas Gajahan, Solo (22/6).

Sebagai contoh bila ada masyarakat yang menghubungi 119, maka call center akan menanyakan dimana lokasi kejadian berada dan akan mengarahkan ambulans dari Puskesmas, pos kesehatan, rumah sakit pemerintah yang paling dekat dengan lokasi kejadian.

Sementara itu, Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes dr. Bambang mengatakan layanan 119 kedepannya akan terintegrasi dengan layanan kepolisian dan kebakaran.

PSC 119 saat ini baru menggunakan nomor lokal, tapi ke depan akan jadi nomor layanan yang terintegrasi dengan lyanan kepolisian dan kebakaran. Untuk saat ini baru layanan kesehatan dan rumah sakit, ujarnya.

Walikota Solo/Surakarta juga menambahkan terdapat 17 Puskesmas yang memiliki layanan ICU dan siap melayani masyarakat.

Kami memiliki Puskesmas yang memiliki layanan lengkap tidak hanya di Puskesmas Gajahan ini, tidak hanyak buat mudik tetapi juga buat  sehari-hari, ujar Walikota Solo.Di kota Solo PSC 119 terdapat di Puskesmas Gajahan. Saat ini sudah terdapat di 27 titik/kota.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline (kode lokal) 1500-567,SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak[at]kemkes[dot]go[dot]id.

Sumber: www.depkes.go.id

 

Waspada, 4 Hal Ini Bikin Gula Darah Melonjak

Liputan6.com, Jakarta Masyarakat kerap mengasosiasikan kadar gula darah meningkat gara-gara mengonsumsi makanan atau minuman manis. Padahal, ada beberapa hal di luar itu yang memicu kadar gula darah seseorang melonjak.

Mulai dari kurang tidur hingga konsumsi makanan tinggi lemak, berikut empat hal yang bikin kadar gula darah melonjak. Selengkapnya, seperti mengutip Reader’s Digest, Kamis (4/1/2018).

1. Tidak sarapan

Bagi Anda yang malas sarapan, coba pikir-pikir ulang deh. Studi di 2013 menunjukkan wanita dengan berat badan berlebih yang tidak sarapan memiliki tingkat insulin dan gula darah lebih tinggi usai makan siang dibanding mereka yang sarapan.

Masih kurang bukti efek buruk tidak sarapan? Dalam sebuah studi yang dipublikasikan American Journal of Clinical Nutrition disebutkan pria yang melewatkan sarapan memiliki risiko 21 persen terkena diabetes dibanding yang sarapan.

Sarapan memang salah satu waktu makan penting dalam kehidupan. Agar gula darah tetap stabil, pastikan memilih sarapan yang kaya protein dan lemak sehat.

2. Makanan tinggi lemak

Fast Food

Orang yang sudah terkena diabetes mungkin takut dengan kandungan karbohdirat dalam makanan. Selain itu, fakta terbaru menyebutkan, makanan tinggi lemak juga bisa memengaruhi kadar gula darah. Hal ini terungkap dalam Journal of Nutrition di 2011.

Peneliti menduga, kadar lemak yang tinggi dalam darah memengaruhi kemampuan tubuh membersihkan gula dari darah.

3. Kurang tidur

Ini yang Akan Terjadi Jika Anda Kurang Tidur

Istirahat cukup salah satunya dengan tidur 7-8 jam per hari penting bagi kesehatan. Dalam studi di Belanda disebutkan, pasien diabetes tipe 1 yang tidur hanya empat jam semalam, sensitivitas insulin menurun hingga 20 persen.

“Kurang tidur membuat tubuh mengalami stres kronis. Dan setiap kali stres, berarti kadar gula darah meningkat,” kata pakar diabetes dari Joslin Diabetes Center di Boston, Amerika Serikat, Patty Bonsignore.

4. Merokok

Merokok

Merokok merupakan salah satu kebiasaan yang buruk bagi kesehatan. Terutama bagi penderita diabetes.

Dalam studi yang dilakukan California State Polytechnic University di 2011 menemukan semakin banyak sampel nikotin di darah, semakin tinggi kadar gula darah. Ketika kadar gula darah meningkat, risiko komplikasi pada pasien diabetes pun meningkat.

Sumber: http://health.liputan6.com

WHO Akan Masukkan Kecanduan Main Game Jadi ‘Kelainan Mental’ Eka Santhika , CNN Indonesia | Rabu, 27/12/2017 16:05 WIB

Jakarta, CNN Indonesia — Ketagihan bermain game rencananya akan diklasifikasikan sebagai salah satu gangguan kesehatan mental pada 2018. Wacana ini dikemukakan oleh Badan kesehatan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) atau World Health Organisation (WHO).

Hal ini disebutkan dalam sebuah dokumen yang masih berbentuk draf dalam tahap beta.

Draf tersebut merupakan versi pembaharuan yang kesebelas dari International Classification of Disease (ICD). ICD sendiri adalah panduan standar diagnostik untuk tujuan epidemiologi, manajemen kesehatan dan klinis milik WHO.

Karakteristik kecanduan game

Draf tersebut menjelaskan sedikitnya tiga karakteristik mereka yang mengalami gangguan bermain game, yaitu tidak dapat mengendalikan kebiasaan bermain game, memprioritaskan game di atas kepentingan lainnya serta tidak berhenti bermain game meski menyadari dampak negatifnya.

Dalam draf tersebut, WHO juga menjelaskan bahwa tidak semua game bersifat adiktif atau memberi dampak buruk bagi kesehatan mental pemainnya.

Seseorang dapat dikategorikan sebagai penderita gaming disorder jika candu terhadap game sudah benar-benar mengganggu hubungan interpersonal serta area kehidupan lainnya, seperti sekolah atau pekerjaan.

Mereka yang masuk kategori ini berlaku untuk mereka yang terus menerus memainkan game di smartphone atau duduk di depan monitor PC selama berjam-jam.

Perilaku menyimpang ini sudah berlangsung sekitar 12 bulan untuk bisa dikategorikan sebagai kelainan mental, seperti disebutkan Fortune.

Gangguan perilaku tersebut tidak hanya terjadi pada penggila game. Ciri-ciri serupa juga ditemui pada mereka yang kecanduan judi, akohol, mariyuana, kafein, atau nikotin.

Perdebatan

Dalam komunitas psikologi, kecanduan game masih diwarnai dengan perdebatan. Meski telah dinyatakan sebagai gangguan kesehatan mental oleh American Psychiatric Disorder, namun klasifikasi ini masih harus membutuhkan penelitian yang lebih mendalam.

Profesor kesehatan internasional dari Johns Hopkins Blooomberg School of Public Health, Bruce Lee, menyatakan kegiatan bermain game dapat dinilai sebagai hal yang buruk dan baik, tergantung pada konteksnya, seperti yang ditulis Business Insider.

Mengurangi stress, meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah serta meningkatkan koordinasi fisik, seperti koordinasi antara mata dengan tangan adalah hal-hal positif yang dapat dipelajari melalui game.

Selain itu, virtual reality (VR) sebagai teknologi yang digunakan dalam game juga memberi dampak baik bagi terapi yang bersifat psikologis.

sumber: cnnindonesia.com

4 Tips dari Kemenkes Agar Tetap Sehat di Musim Hujan

Nah, berikut lima cara yang bisa dilakukan untuk tetap sehat di musim hujan seperti disampaikan Kementerian Kesehatan ditulis Rabu (15/2/2017).

1. Jaga pola makan

Asupan gizi merupakan aspek penting bagi daya tahan tubuh. Bila kurang nutrisi, daya tahan tubuh menurun. Sehingga kuman penyakit lebih mudah masuk dan berkembang.

Agar memenuhi zat gizi tercukupmaka memperhatikan pola makan sehat dengan mengonsumsi karbohidrat, lauk pauk, sayuran, buah-buahan dan minuman.

Frekuensi makan per hari harus tetap diperhatikan dari sarpan, makan siang dan makan malam. “Yang harus diprioritaskan adlah sarapan. Ini adlah kegiatanan makan dan minum dari bangun hingga jam sembilan pagi untuk memenuhi 15-30 persen kebutuhan gizi harian,” tulis Kemenkes dalam rilisnya.

Disarankan juga mengonsumsi probiotik agar terhindar dari infeksi seperti flu dan diare. Mengonsumsi probiotik membantu menjaga ususu agar sistem pencernaan lancar. Contoh makanan probiotik adalah yogurt, tahu, tempe, dan acar.

2. Olah raga

Olah raga merupakan cara sederhana dan mudah tapi besar manfaatnya. Latihan fisik selama 30 menit mampu mengaktifkan sel darah putih. Dalam buku Guyton dan Hall, sel darah putih berfungsi menyediakan pertahan yagn cepat dan kuat terhadap daerah tubuh yang mengalami peradangan.

Olah raga tidak harus dilakukan di luar ruangan, tapi juga dalam ruangan. Sehingga meski hujan, tetap bisa berolahraga.

3. Jaga kualitas tidur

Tidur merupakan waktu reses tubuh untuk pemulihan seluruh sistem anggota badan. Kualitas tidur itu sangat penting dalam menjaga kesehatan.

Pada anak usia prasekolah usia 3-5 tahun membutuhkan tidur 10-13 jam, anak sekolah usia 6-13 tahun membutuhkan tidur 9-11 jam. Lalu, remaja usia 14-17 tahun butuh 8-10 jam. Usia 18-25 tahun direkomendasikan tidur selama 7-9 jam.

Kemudian usia dewasa 26-64 tahun membutuhkan tidur 7-9 jam. Lalu para lanjut usia direkomendasikan tidur selama 7-8 jam.

4. Kelola stres

Saat musim hujan, seseorang mudah stres. Misalnya karena terlambat bekerja gara-gara hujan turun.
Ketika seseorang stres akan berdampak secara fisiologis. Seperti gelisah, detak jantung meningkat dan mudah letih. Oleh karena itu penting sekali mengelola stres.

Dalam buku Psikolog karya Carole Wade dan Carole Tavris, salah satu cara mengelola stres dengan menenangkan diri dengan relaksasi. Relaksasi dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun.

Caranya dengan membiarkan tubuh menerima ransangan apapun baik berupa suara, bau atau sentuhan yang dapat menenangkan diri.